h1

Melihat Kegemilangan Indonesia dari Sudut Pandang Pertanian

January 10, 2010

Pertanian indonesia kini sedang menghadapi dilema, dipertanyakan, dan seringkali dianggap negatif. Hampir setiap sudut negeri ini dilanda kebingungan tentang mau diapakan pertanian Indonesia dan untuk apa. Kebingungan ini sangat kontras dengan kenyataan tentang apa yang sudah diberikan dan apa yang akan diberikan oleh pertanian bagi bangsa ini. Padahal, pertanian yang dikelola dengan baik dapat menjadi basis dan andalan bagi perekonomian Indonesia yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Hal pertama yang sebaiknya dilakukan adalah menganalisis mengapa pertanian menjadi sektor terpinggirkan, kemudian mengapa pertanian perlu dikembangkan di Indonesia dan terakhir bagaimanakah peran pertanian bagi perekonomian Indonesia yang berkelanjutan tersebut.

Kesalahan cara pandang melihat pertanian dimulai dengan sebuah kerangka pemikiran dualistic mengenai pertanian. Dalam kerangka dualistic itu, terdapat hipotesis bahwa aktivitas ekonomi di sektor modern (Barat) dipicu kebutuhan ekonomis, sedangkan aktivitas ekonomi di sektor tradisional (Timur) hanya dipicu oleh kebutuhan sosial. Di sana implisit bahwa tidak akan ada gunanya membawa ide-ide baru, kelembagaan dan teknologi baru ke tengah-tengah masyarakat tradisional. Hipotesis inilah yang menjadi justifikasi rasional dalam pengembangan industrialisasi dan mengabaikan pembangunan pertanian[1].

Proses pembangunan ekonomi adalah transfer tenaga kerja dari sektor tradisional ke sektor modern. Fondasi kapitalistik inilah yang menjadi buah pemikiran Arthur Lewis, yang akhirnya berkembang kepada hubungan antara negara maju dan negara berkembang.[2]

Dengan kolonialisasi barat terhadap Indonesia, maka masuklah pemikiran tersebut ke dalam pola pikir masyarakat Indonesia. Sehingga sebagai daerah bekas daerah jajahan, Indonesia masih mewarisi pemikiran itu. Ini terbukti dari perlakuan pada sektor pertanian yang hanya dianggap sebagai sektor sampingan. Yang lebih diutamakan adalah industri sebagi motor perekonomian. Hasilnya adalah yang kita rasakan saat ini, dimana ketahanan pangan Indonesia sangat rentan, industripun tak jalan.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa harus pertanian yang diutamakan dahulu untuk dikembangkan di Indonesia. Jawaban pertanyaan tersebut adalah 3 alasan sederhana, yaitu:

1. Pertanian adalah sektor yang menghasilkan kebutuhan dasar manusia, yaitu bahan pangan.

2. Faktor alam Indonesia sangat mendukung untuk dikembangkannya pertanian di Indonesia.

3. Kemudahan pertanian untuk diakses dan dikembangkan oleh segenap lapisan masyarakat. Pengembangan keilmuan, keterampilan, dan kemudahan dari sektor pertanian untuk dikembangkan. Pertanian tidak seperti industri maju yang membutuhkan banyak sarjana untuk mengembangkannya.

Dengan segala keunggulan pertanian untuk dikembangkan, maka apakah peran pertanian bagi perekonomian Indonesia? Mengenai peran pertanian terhadap perekonomian Indonesia yang berkelanjutan dapat dibagi menjadi 2 sisi, yaitu sisi fisik dan sisi non fisik.

Dari sisi fisik, pertanian berperan dalam:

1. Menjaga ketahanan pangan nasional.

Pertanian memegang peranan menjaga ketahanan pangan nasional. Namun apabila ketahanan pangan tersebut lemah, maka akan ditandai dengan banyaknya impor berbagai jenis pangan dari luar negeri. Hal ini rentan bagi kelangsungan hidup masyarakat, perekonomian dan politik negara. Harga panganan tersebut tidak bisa dikontrol. Dimana saat suplainya kurang atau adanya kenaikan harga di tempat asalnya maka harga di dalam negeri akan naik. Politik negarapun akan mudah diintervensi asing. Pertanian yang mampu mencapai swasembada (Indonesia ,1984) sangatlah mendukung perekonomian nasional. Dengan ketahanan pangan yang kuat, negara akan bebas untuk mengembangkan sektor perekonomian dan pemerintah.

2. Sosial Ekonomi

  • · Menghapus pengangguran

Tabel Sumbangan Pertanian Terhadap Lapangan Kerja

Tahun 2001 2002 2003 2004 2005
Angkatan Kerja di bidang pertanian (juta) 39,7 40,6 43 40,6 41,8
Persentase terhadap angkatan kerja nasional (%) 43,8 44 46,3 43,5 44

Sumber : BPS

Berdasarkan tabel diatas, dan dengan membandingkan sumbangan sektor pertanian terhadap PDB (yang menurun dari tahun 1999 (17,1%) sampai tahun 2005 (14,4%)) diketahui bahwa daya serap sektor pertanian sangat besar sebagai lapangan pekerjaan banyak orang. Selain itu pertanian menjadi land resort bila ada masyarakat yang tidak tertampung di sektor lain. Ini terlihat dari turun naiknya persentase masyarakat yang bekerja di sektor pertanian. Pertanian menjadi penampung terakhir dan sumber pekerja bagi sektor lain saat sedang kontraksi maupun relaksasi.

Tabel Elastisitas Kesempatan Kerja Tahun 1999-2003[3]

Sektor Elastisitas Elastisitas rata-rata
1999-2000 2000-2001 2001-2002 2002-2003
Pertanian 4.87 1.37 1.12 1.36 2.18
Industri Pengolahan 5.66 41.75 28.24 26.57 (25.55)
Pertambangan 15.18 70.77 20.39 208.08 (78.6)

Sumber: BPS (diolah)

Elastisitas kesempatan kerja adalah persentase antara perubahan lapangan kerja dibandingkan dengan perubahan PDB.  Dari tabel diatas bahwa setiap kenaikan PDB sebesar 1% akan menaikkan lapangan kerja di sektor pertanian sebesar 2.18%, sedangkan bila di sektor pertambangan akan menurunkan lapangan kerja sebesar 78.6%. Dengan kata lain tabel diatas menggambarkan bahwa pertanian adalah sektor padat karya, dimana setiap investasi yang dilakukan atasnya akan meningkatkan lapangan kerja. Sedangkan sektor industri dan pertambangan adalah sektor padat modal.  Theodore w. Schultz (Peraih Nobel bidang ekonomi bersama Arthur Lewis tahun 1979) berargumen bahwa investasi di pertanian dapat menjadi salah satu investasi dengan biaya rendah dan mampu menghasilkan tambahan pendapatan tinggi yang permanen[4]

  • · Pemerataan Pendapatan dan Pengentasan Kemiskinan

Pertanian dapat menghasilkan lebih banyak lapangan pekerjaan daripada sektor lain, maka secara langsung pertanian menghasilkan pemerataan pendapatan yang nyata. Kita tahu bahwa banyak para penganggur berasal dari daerah pedesaan. Dengan pertanian yang berkembang, dan karena pertanian lebih banyak berlokasi di pedesaan, otomatis orang-orang desalah yang banyak  mendapat pekerjaan. Sehingga pemerataan pendapatanpun terjadi walaupun belum sempurna. Hal inipun dapat membantu pertumbuhan di desa, dimana disebabkan tingkat urbanisasi yang menurun dan secara tidak langsung menguntungkan perkotaan juga. Dengan tingginya tingkat orang yang bekerja, pemerataan pendapatan, dan pertumbuhan ekonomi, maka akan sangat berpengaruh terhadap pengentasan tingkat kemiskinan.

3. Pengembangan industri terkait pertanian

Untuk mendukung pertanian yang maju, maka industri-industri dan lembaga pendukung pertanian pun akan semakin berkembang dan semakin kompleks. Baik dari sektor hulu (penyuplai sumberdaya bagi pertanian) maupun hilir (pendistribusi hasil pertanian) akan terstimulus untuk berkembang. Di sektor hulu, industri yang akan berkembang seperti industri pupuk, bibit, mesin-mesin pertanian, sistem informasi pertanian, sistem pengairan serta lembaga riset dan pengembangan. Sedangkan di sektor hilir yang berkembang seperti sistem transportasi, pelabuhan, pasar dan retail, serta ekspor-impor. Hal ini sungguh paduan yang sangat konkrit dan kuat, dimana industri pertanian tumbuh seiring dan berkolaborasi dengan industri lainnya.

4. Membangun sektor industri dan jasa lanjutan

Studi empiris mengemukakan bahwa suatu negara tidak dapat tinggal landas (take off) menjadi negara maju dengan mengembangkan sector industri dan jasa tanpa memiliki sektor pertanian yang kuat (Sorow). Sektor pertanian ini adalah sektor yang harus pertama kali dikembangkan dan dimajukan. Hasilnya, setelah pertanian mengalami surplus maka dialokasikan ke sektor industri. Di beberapa negara seperti China dan Korea Selatan, strategi itu digunakan. Namun, ketika industri telah menghasilkan surplus, sebagian keuntungan dikembalikan lagi ke sektor pertanian[5]. Berdasarkan hal tersebut, dengan sektor pertanian yang tangguh, suatu negara akan memiliki sumber daya untuk mengembangkan industrinya lebih lanjut dan tidak dipusingkan urusan kerawanan pangan. Industri yang dapat dikembangkanpun sudah tidak harus terikat langsung dengan pertanian, misalnya otomotif, pesawat terbang, farmasi,dll. Ada sebuah kelakar yang mengomentari ditukarnya pesawat produksi PT. Dirgantara Indonesia Bandung dengan ketan hitam dari Thailand. Kelakaran itu berbunyi,” buat apa kita memproduksi pesawat kalau akhirnya hanya ditukar dengan ketan, lebih baik dari awal kita memproduksi ketan, ga usah pusing-pusing lagi”.

5. Meningkatkan Pendapatan Asli Negara

Tabel Ekspor Non-Migas Indonesia (% dari tiap sektor)

Tahun Pertanian Pertambangan Industri Komoditi Sektor Lainnya
2004 4,5 8,5 87 4,4
2005 4,3 10,6 85 4,1

Sumber: http://www.dprin.go.id

Dalam kondisi Indonesia saat ini, pertanian bukanlah andalan ekspor, namun dengan persentase sedikit itulah, maka terbuka peluang untuk mengembangkan pertanian. Saat ini yang menjadi andalan ekspor non-migas adalah dari industri. Sayangnya dengan pendapatan besar dari sektor industri , ternyata tidak 100% menjadi pendapatan Indonesia. Kita tahu bahwa kepemilikan dan investasi asing sangat besar di sektor-sektor industri, pertambangan, dan jasa. Karena itu, alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan asli bangsa adalah dengan mengembangkan sektor pertanian, dan hindarilah kepemilikan asing di dalamnya. Dengan cara itu, pendapatan asli dan pendapatan ekspor Indonesia dari sektor pertanian akan meningkat. Apalagi Indonesia di dukung dengan berbagai faktor, seperti harga komoditas dunia yang tinggi (CPO dan Karet) serta tanaman khas indonesia lainnya (misalnya cengkeh).

6. Sebagai sektor anti krisis ekonomi

Pertanianpun memiliki peran sebagai salah satu sektor anti krisis ekonomi (setor lainnya adalah sector UKM). Pertanian menjadi land resort lapangan pekerjaan dari sektor lain. Dimana, seburuk-buruknya kondisi perekonomian, setiap orang masih dapat menggantungkan hidupnya di sektor ini. Penyebab kuatnya sektor ini adalah dapat mandiri dari intervensi asing (misalnya barang modal, keuangan, dan hasil riset) sehingga masih bisa survive dan berkembang. Namun apabila pertanian dikerjakan dengan ketergantungan terhadap asing maupun swasta yang tinggi, pertanianpun akan sama lemahnya seperti industri dari krisis ekonomi.

Sedangkan dari sisi nonfisik, pertanian berperan untuk:

1. Membangun konsep lingkaran kondisi keemasan (Golden State Scenario)[6]

Pertanian yang maju akan menghasilkan perekonomian yang kuat. Dengan perekonomian yang kuat dapat membentuk investasi terhadap pembentukan kesejahteraan sosial dan modal sosial. Dengan modal sosial yang baik, interalisasi terhadap penjagaan lingkungan hidup, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam konsep ekonomi, akan terjamin. Dengan pencapain kesejahteraan sosial dan kehidupan lingkungan yang lestari akan menjamin pula terhadap pencapaian perekonomian yang kuat.

2. Mendukung demokrasi yang sehat

Sebenarnya konsep ini bisa dipandang dari dua sisi sebagai konsep sebab-akibat dan akibat-sebab. Ketika pemerintah memiliki komitmen yang kuat untuk mengembangkan pertanian maka pemerintah akan sangat memperhatikan partisipasi dan  aspirasi. Setiap kebijakan dan perjanjian yang diterapkan baik di dalam negeri maupun di dunia internasional (melalui WTO misalnya) tidak ada yang merugikan pertanian nasional. Sikap pemerintahpun bisa pula disebabkan oleh tekanan pertanian yang sudah maju, baik melalui outpunya maupun serikat petani. Sehingga kita bisa melihat pertanian mendukung pelaksanaan demokrasi yang sehat dan parsitipatif. Tidak ada demokrasi tanpa partisipasi, yang ada hanya oligarki dan otokrasi. Dengan adanya demokrasi yang sehat, akan menjalar terhadap bidang lain seperti perekonomian, hukum, dll, sehingga bukan hanya perekonomian saja yang akan maju tetapi sektor lain.

3. Mengubah pola pikir bangsa Indonesia

Peran pertanian lainnya adalah merubah pola pikir bangsa. Bentuknya dengan menghancurkan pola pikir dualistic pertanian warisan kolonial. Dengan pertanian yang maju, yang memberikan keuntungan, maka hancurlah pola pikiran dualistic yang menekankan bahwa pertanian hanya memberikan sedikit manfaat. Kemudian, bangsa Indonesia dapat mendobrak paradigm lain yang menyelimutinya seperti mengagungkan budaya bangsa lain, tidak percaya diri, mudah menyerah, dll. Kini terbukti pemikiran tersebut salah. Bangsa Indonesia dapat maju dengan menjadi dirinya sendiri dan menggunakan apa yang sudah dimilikinya. Selanjutnya pola pikir maju lainpun akan terus berkembang. Hasilnya, bukan saja perekonomian yang akan maju, tetapi bidang lainnya. Khusus di bidang pertanian, pola pikir bekerja professional, efisien, dinamis, dan modern akan terus menggaung dan otomatis akan menghapus stigma negatif yang telah lama melekat. Masyarakat tidak akan lagi merasa malu untuk menjalani profesi sebagai petani, karena mereka tahu bahwa menjadi petani itu mulia dan sejahtera.

Dengan segala peran pertanian bagi bangsa ini, khususnya dalam bidang perekonomian, sudah tidak ada alasan lain untuk melihat pertanian dengan citra yang negatif. Pertanian akan menjadi basis dan andalan indonesia untuk keluar dari krisis kemudian menjadi negara maju. Tugas pemerintah, media, dan masyarakat indonesialah untuk terus mendorong pertanian untuk maju , serta tugas dari insan pertanian itu sendiri untuk mandiri memperjuangkan citranya apabila belum ada dukungan pihak eksternal.


[1] Bustanul Arifin, Peran Ilmu Ekonomi Pertanian dalam Membangun Peradaban, diakses dari tokohindonesia.com, pada 11 September 2008

[2] Ibid

[3] D.S. Priyarsono,dkk, Peranan Investasi Di Sektor Pertanian dan Agroindustri Dalam Penyerapan Tenaga Kerja Dan Distribusi pendapatan: Pendekatan Sitem Neraca Sosial Ekonomi (Bogor):9-10.

[4] Bustanul Arifin, op.cit.

[5] Syaiuful Bahari, Kegagalan Pembangunan Pertanian di Indonesia (Harian Kompas, 15 Maret 2004), diakses dari www.kompas.com pada tanggal 11 September 2008

[6] Achmad Suryana, Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Adalah Pembangunan Nasional, Seminar Sistem Pertanian Berkelanjutan Untuk Mendukung Pembangunan Nasional, Universitas Sebelas Maret (Februari, 2005):IV-43.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: