h1

Analisa Bertrand dan Stakelberg Terhadap Persaingan Bunga Kredit Investasi: BNI vs Bank Mandiri

January 11, 2010

STUDY CASE

Bertrand dan Stakelberg

Persaingan Bunga Kredit Investasi: BNI vs Bank Mandiri

oleh :

Yudha Prama D (0606030222)

Dimas Rachmat (0606082481)

Mega DN (0606082883)

Indra

Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

2008

I. Pendahuluan

I.1 Bank BNI

Sejarah BNI

Berdiri sejak 1946, BNI yang dahulu dikenal sebagai Bank Negara Indonesia, merupakan bank pertama yang didirikan dan dimiliki oleh Pemerintah Indonesia.

Sejalan dengan keputusan penggunaan tahun pendirian sebagai bagian dari identitas perusahaan, nama Bank Negara Indonesia 1946 resmi digunakan mulai akhir tahun 1968. Perubahan ini menjadikan Bank Negara Indonesia lebih dikenal sebagai ‘BNI 46’. Penggunaan nama panggilan yang lebih mudah diingat – ‘Bank BNI’ – ditetapkan bersamaan dengan perubahaan identitas perusahaan tahun 1988.

Tahun 1992, status hukum dan nama BNI berubah menjadi PT Bank Negara Indonesia (Persero), sementara keputusan untuk menjadi perusahaan publik diwujudkan melalui penawaran saham perdana di pasar modal pada tahun 1996.

Visi BNI
Menjadi Bank kebanggaan nasional yang Unggul, Terkemuka dan Terdepan  dalam Layanan dan Kinerja

Misi BNI

  • Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh nasabah, dan selaku mitra pillihan utama (the bank choice)
  • Meningkatkan nilai investasi yang unggul bagi investor.
  • Menciptakan kondisi terbaik sebagai tempat kebanggaan untuk berkarya dan berprestasi.
  • Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial.
  • Menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola perusahaan yang baik.

Laporan Keuangan BNI ( dalam triliuan )

2006                                        2005

Laba bersih                              1.926                                       1.415

Earing per share                      145,2                                       106

Current Ratio                          1,095                                       1,097

Debt to Equity                        10,44                                       11,42

ROA                                       1,85 %                                     1,61%

ROE                                        22,61%                                    12,64%

I.2 Bank Mandiri

Sejarah

Bank Mandiri didirikan pada 2 Oktober 1998, sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintaha Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank pemerintah — Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Exim and Bapindo–dilebur menjadi Bank Mandiri.

Visi:

Bank terpecaya pilihan anda

Misi:

  • Berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar
  • Mengembangkan sumber daya manusia professional
  • Memberi keuntungan yang maksimal bagi stakeholder
  • Melaksanakan manajemen terbuka
  • Peduli terhadap kepentingan masyarakat dan lingkungan

Laporan Keuangan Mandiri (dalam jutaan)

2006                                        2005

Laba bersih                             2.412.405                                 603.309

Laba per saham                       117,83                                      29,68

Current ratio                            1,055                                       1,048

Debt to Equity                          9,155                                       10,34

ROA                                           0,009                                       0,00229

ROE                                            0,1445                                     0,0373

I. Bertrand

Permasalahan

Kasus yang diambil dalam makalah ini adalah kasus persaingan bunga pinjaman antara 2 bank, yaitu BNI dan Bank Mandiri. Kedua bank tersebut berusaha memberikan bunga pinjaman ke debitornya serendah mungkin agar dapat pangsa pasar kredit yang besar. Kasus ini akan dianalisis berdasarkan dua analisa persaingan harga, yaitu Betrand Competition dan Steckelenberg Competition

Betrand Competition

Asumsi

Sebelum masuk ke analisa, asumsi yang mendasari kasus ini adalah:

  1. Dalam kasus ini, produk identik dari kedua bank yang dijadikan sebagai persaingan adalah kredit pinjaman investasi
  2. Terdiri dari 2 perusahaan yang bersaing, yaitu BNI dan Bank Mandiri
  3. Setiap bank memiliki marginal cost yang konstan, yaitu c. Dalam makalah ini marginal cost masing-masing bank adalah cost of fund.
  4. Persaingan ini dalam hal harga, yaitu bunga kredit pinjaman investasi
  5. Persaingan ini memiliki inverse demand, yaitu P = 2 – 0.5Q

Data-data yang dibutuhkan untuk melakukan analisa betrand competition antara lain:

Price dimana adalah bunga pinjaman kredit

Marginal cost atau dinotasikan sebagai c, dimana merupakan penjumlahan dari cost of loanable fund, Overhead cost, dan premi risk. Cost of loanable fund sendiri adalah cost of fund setelah memperhitungkan reserve requirement. Sedangkan komponen cost of fund antara lain Rate bunga dan jumlah dana giro, Rate bunga dan jumlah dana deposito berjangka, Rate bunga dan jumlah dana tabungan

Price: Bunga pinjaman

Per tanggal 21 Januari 2009, SBI Rate 50 basis poin menjadi 8.75 persen. Penurunan SBI Rate diikuti penurunan suku bunga kredit BNI dan Bank Mandiri. BNI menurunkan bunga pinjaman menjadi 14,5 hingga 15,5 persen dengan penurunan berkisar 1-1,5 persen. Sedangkan mandiri menjadi 14-15 persen dengan penurunan sebesar 0,5 persen

Marginal cost

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, marginal cost terdiri dari cost of loanable fund, Overhead cost, dan premi risk.

Cost of loanable fund

Cost of loanable fund adalah cost of fund setelah memperhitungkan reserve requirement. Sedangkan komponen cost of fund antara lain Rate bunga dan jumlah dana giro, Rate bunga dan jumlah dana deposito berjangka, Rate bunga dan jumlah dana tabungan. Untuk menghitung cost of loanable fund, terlebih dahulu kita harus menghitung cost of fund. Berikut data-data yang diperlukan untuk menghitung cost of fund:

Suku Bunga Deposito BNI

Average cost of fund from deposit = 6.71%

Suku Bunga Deposito Mandiri

Average cost of fund from deposit = 6.72%

Suku bunga giro BNI

Average cost of fund from giro = 1.5 %

Suku bunga giro Mandiri

Average cost of fund from giro = 1.35%

Suku bunga tabungan BNI

Average cost of saving = 2.05%

Suku bunga tabungan Mandiri

Average Cost of saving fund = 2.25%

Berikut rekapitulasi data-data diatas sekaligus penentuan cost of fund:

Dengan demikian, cost of fund dari BNI adalah 3.86%. Sedangkan cost of fund dari Bank Mandiri adalah 4.13%.

Cost of loanable fund

Untuk menghitung cost of loanable fund, maka dibutuhkan data GWM. Berdasarkan data terakhir GWM adalah sebesar 8% sehingga cost of loanable fund BNI dan Bank Mandiri dapat dihitung sebagai berikut:

–          BNI: (100/100-GWM) x cost of fund = 100/92 x 3.86 = 4.19%

–          Mandiri: (100/100-GWM) x cost of fund = 100/92 x 4.13 = 4.49%

Dari hasil perhitungan dapat kita lihat bahwa cost of loanable fund BNI sebesar 4.19% sedangkan cost of loanable fund Bank Mandiri adalah sebesar 4.49%

Karena keterbatasan data maka untuk perhitungan overhead cost dan premi risiko dibuat asumsi, dimana overhead cost sebesar 3% sedangkan premi risiko sebesar 6%. Dengan demikian, dapat dihitung profit masing-masing bank sebagai berikut:

Profit = Bunga Kredit – (Cost of loanable fund + Overhead cost + premi risiko)

Profit mandiri = 14% – (4.49% + 3% + 6%) = 14% – 13.49% = 0.51%

Profit BNI = 14.5% – (4.19% + 3% + 6%) = 14.5% – 13.19% = 0.31%

Setelah mendapatkan profit masing-masing bank, maka dapat dianalisa persaingan bunga kredit berdasarkan betrand competition

Misalkan Pb adalah bunga yang ditetapkan oleh BNI . Sedangkan Pm adalah bunga yang ditetapkan oleh Bank Mandiri. Dengan demikian, jika Pm > Pb maka Bank Mnadiri will sell nothing (qm = 0). Sedangkan jika Pm < Pb maka she gets the whole market. Sedangkan jika Pm = Pb maka the market is shared, presumably 50:50. Dengan demikian, kita dapat derived demand untuk Bank Mandiri sebagai berikut:

qm = 0                                     if p2 > p1

qm = (2 – 1pm)/2                    if p2 = p1

qm = 2 – 1pm                          if p2 < p1

Berikut adalah grafik analisa penrsaingan bunga kredit perbankan antara BNI dan Bank Mandiri:

Dari grafik diatas, dapat dijelaskan bahwa ketika bunga kredit Bank Mandiri sama dengan bunga kredit BNI maka kredit investasi yang bisa dijual ke debitor adalah (2 – 0.5pm)/2

Dengan demikian, profit Bank Mandiri dapat dinyatakan sebagai berikut:

if pm > pb à pm(pb, pm) = 0

if pm < pb à pm(pb, pm) = (pm – c)(a – bpm)

if pm = pb à pm(pb, pm) = (pm – c)(a – bpm)/2

Karena berdasarkan data yang ada dimana Pm (14%) < Pb (14.5%) maka pm (pb, pm) = (14% – 13.49%)  (10 – 0.5 x 14%) = 0.51% x 3% = 0.45%

Karena bank mandiri menerapkan bunga yang lebih rendah dari bunga BNI maka profit mandiri sebesar 0.45%. Sedangkan profit BNI adalah 0 karena bunga kredit BNI lebih besar daripada bunga kredit Bank Mandiri

Jika bunga yang ditetapkan BNI lebih besar dari (a + c)/2b atau Pb > 15.49% maka keuntungan mandiri dapat dianalisa sebagai berikut:

Ketika bunga yang ditetapkan oleh BNI lebih besar dari bunga yang ditetapkan Bank Mandiri, sebaiknya Bank Mandiri menetapkan bunga sebesar 15.49% karena Bank Mandiri akan mendapatkan monopoly profit ketika menetapkan bunga sebesar 15.49%. Sedangkan jika BNI menurunkan bunga kredit menjadi 15.49% maka sebaiknya Bank Mandiri menurunkan sedikit dari 15.49%. Jika BNI kembali menurunkan bunga kredit maka Bank Mandiri juga seharusnya menurunkan bunga kredit. Persaingan bunga kredit ini akan berhenti atau akan mencapai equilibrium ketika bunga kredit sama dengan marginal cost.

Dengan demikian, respon terbaik Bank Mandiri atas bunga kredit yang ditetapkan BNI adalah sebagai berikut:

p*m = 15.49%                                     if pb > 15.49%

p*m = pb – “something small”            if c < p1 < 15.49%

p*m = c                                              if pb < c

Dengan demikian, respon terbaik BNI atas bunga kredit yang ditetapkan Bank Mandiri adalah sebagai berikut:

p*b = 15.49%                                      if pm > 15.49%

p*b = pm – “something small”            if c < pm < 15.49%

p*b = c                                               if pm < c

Game Theory

Mandiri
Lebih rendah Sama Lebih Tinggi MC
BNI Lebih Tinggi 0.45%, 0%
Sama 0.225%,0.42625%
Lebih Rendah 0%, 0.8525%
MC 0%, 0%

Berdasarkan analisa game theory, jika bunga bank Mandiri lebih rendah dari BNI maka Bank Mandiri akan mendapatkan 0.45% sedangkan BNI tidak mendapatkan untung. Sedangkan jika bunga BNI lebih rendah daripada Bank Mandiri maka BNI akan mendapatkan profit sebesar 0.8525% sedangkan Bank Mandiri tidak mendapatkan profit. Namun jika bunga kedua bank sama maka Bank Mandiri akan mendapat profit 0.225% sedangkan BNI akan mendapatkan profit sebesar 0.42625%. Jika kedua bank menerapkan bunga sama dengan MC maka kedua bank tidak akan mendapatkan profit. Dengan demikian, nash equilibrium akan berada di bunga kredit yang sama.

III. Stackelberg

Landasan Teori

Stakelberg adalah model teori yang menggambarkan kompetisi di suatu pasar dengan kondisi para pemainnya bermain secara sequential (tidak secara bersamaan). Misalnya ketika perusahaan pertama mengeluarkan produk baru atau iklan baru, maka perusahaan kedua kan bergerak dan merespon aktivitas dari perusahaan pertama tersebut.

Hal ini merupakan suatu kegiatan yang dinamis, yang dapat menghasilkan suatu keuntungan bagi pemain pertama maupun bagi pemain ke dua. Keuntungan bagi pemain pertama apabila persaingan antara ke dua perusahaan dalam segi output. Sedangkan keuntungan bagi pemain kedua apabila kedua perusahaan bersaing dalam segi harga.

Dalam kasus keuntungan bagi pemain kedua yaitu kompetisi dalam segi harga, maka pemain pertama tidak mendapat keuntungan bergerak, dan dalam asumsi produk yang dikeluarkan adalah identik.

Studi kasus

Untuk menguji kasus ini, kami menggunakan kasus Bank BNI versus Bank Mandiri dalam memperebutkan nasabah peminjam dana (quantity) dengan memberikan tingkat pengembalian bunga tertentu (price)

  1. Bank BNI

Bank BNI mengesahan suku bunganya pada tanggal 24 Oktober 2008. Dengan tingkat suku bunga 14,5%. Dari data sebelumnya di dapat cost of fund sebesar 3.86%. Kemudian kita akan mendapatkan c sebesar 13.19%.

  1. Bank Mandiri

Bank Mandiri mengesahan suku bunga pada tanggal 1 Juli 2008 sehingga Bank Mandiri merupakan pemain pertama (first mover) dan Bank BNI sebagai pemain kedua (second mover). Dengan tingkat suku bunga 14%. Dari data sebelumnya di dapat cost of fund sebesar 4,13%. Kemudian kita akan mendapatkan c sebesar 13.49%.

Pembahasan

Untuk membahas kasus stakelberg ini, kami masih menggunakan asumsi kurva permintaan penyimpanan dana di kasus sebelumnya, yaitu Inverse demand : P=2-0.5Q.

Demand to firm 1 (Mandiri) is : D1(p1, p2) = N(p2p1 + t)/2t à didapat N=7.371743

Demand to firm 2 (BNI) is : D2(p1, p2) = N(p1p2 + t)/2t à didapat N= 10.84180

p*1 = c + 3t/2 à di dapat t = 0.54

p*2 = c + 5t/4 àdi dapat t = 1.048

Profit Bank Mandiri à π1 = 18Nt/32= 2.239167

Profit Bank BNI à π2 = 25Nt/32= 8.876789

Kesimpulan

Dari perbandingan profit BNI dan Mandiri, diketahui bahwa profit pemain ke dua lebih besar (Bank BNI). Sehingga terbukti bahwa dalam kasus stakelberg pricing competition  terdapat second mover advantage.

IV. Structure Conduct Performance di dalam Industri Perbankan Indonesia

Persaingan di dalam industry perbankan kini semakin tajam walaupun jumlah bank terus menurun. Jumlah asset yang terus bertambah secara total dan pertumbuhan kredit yang naik secara tajam cukup menjadi indikasi dari meningkatnya persaingan di industry perbankan Indonesia. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai struktur, conduct, dan performance dari industry perbankan tanah air. Dalam pembahasan ini, diambil objek teramati sebanyak 3 bank yaitu Bank Mandiri, Bank BCA, dan Bank BNI. Ketiga bank tersebut cukup menarik untuk diamati karena ketiga bank tersebut mengisi daftar 5 besar bank dengan asset terbesar.

Struktur

Hingga Desember 2007 tercatat jumlah bank umum sebanyak 130. Jumlah tersebut turun dibandingkan dengan Desember 2003 sebanyak 138. Akan tetapi dalam sisi aset, pertumbuhan jumlah aset bank umum berbanding terbalik dengan pertumbuhan pada jumlah bank umum. Dari sisi asset, asset bank umum di Indonesia pada desember 2007 yaitu sebesar 1986 triliun rupiah. Sedangkan pada desember 2003 tercatat hanya 1213 triliun rupiah.

Pertumbuhan yang cukup pesat seperti dalam asset bank umum juga terjadi pada pertumbuhan asset pada masing-masing bank yang menduduki peringkat 10 besar bank dengan asset terbesar. Pembahasan mengenai kondisi struktur pasar menggunakan konsep konsentrasi pasar. Pangsa pasar, dalam pembahasan kami dihitung dengan membagi jumlah asset yang dimiliki bank dengan jumlah total asset bank umum.

Berikut adalah Tabel Konsentrasi Industri Perbankan pada tahun 2007.

Peringkat Bank Market Share

(%)

Squared Market Share

1 Mandiri 15,43 238,0849
2 BCA 11,01 121,2201
3 BRI 10,27 105,4729
4 BNI 9,29 86,3041
5 Danamon 4,36 19,0096
6 Niaga 2,76 7,6176
7 Panin Bank 2,59 6,7081
8 BII 2,56 6,5536
9 Citibank 2,27 5,1529
10 Permata 1,97 3,8809
11 Lain-lain 37,5 1406,25
Indeks Konsentrasi (CR4)

46 H= 2006,255

Merujuk pada tabel konsentrasi indeks di atas, 4 bank besar memegang porsi cukup banyak dalam hal kepemilikan asset yaitu 46%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa industry perbankan di Indonesia cukup terkonsentrasi di 4 besar bank tersebut. Dalam konteks 3 bank yang kami bahas, mandiri, BCA, dan BNI,  ketiga bank tersebut juga memiiki porsi yang cukup besar dalam industry perbankan. Ketiga bank tersebut memiliki pangsa pasar pasa kisaran 35%-36% secata total. Dengan pangsa pasar gabungan ketiga bank tersebut, maka apa yang terjadi dalam ketiga bank tersebut dapat cukup berpengaruh secara signifikan dalam industry perbankan tanah air.

Merujuk pada hasil yang didapat dari penjumlahan pengkuadratan pangsa pasar, didapat HH Indeks dengan nilai 2006,255. Dengan nilai seperti itu, maka industry perbankan di Indonesia dapat digolongkan dalam sebuah industry dengan tipe monopolistic. Hal tersebut cukup bagus mengingat kondisi persaingan yang terjadi di dalam industry perbankan jauh dari praktek-praktek monopoli. Dari sudut pandang konsumen dalam hal ini adalah nasabah dan penerima kredit bank, kondisi tipe monopolistic seperti ini merupakan kondisi yang bagus.

Conduct

Indonesia mempunyai sejarah yang cukup panjang dalam konteks regulasi perbankan. Pada mulanya Indonesia memiliki UU No 14/1967 ttg Pokok-pokokPerbankan. UU tersebut adalah UU prtama yang mengatur kegiatan bisnis perbankan di Indonesia. Tidak lama setelah itu, muncul UU yang melengkapi UU sebelumnya, UU No. 11/1953 tentang Penetapan Undang-Undang Pokok Bank Indonesia pada tanggal 1 Juli 1953. UU tersebut adalah UU No 13/ 1968 ttg Bank Sentral. UU tersebut menetapkan Bank Indonesia sebagai bank sentral. Sejak saat itu, Bank Indonesia berfungsi sebagai bank sentral dan sekaligus membantu pemerintah dalam pembangunan dengan menjalankan kebijakan yang ditetapkan pemerintah dengan bantuan Dewan Moneter. (www.bi.go.id)

Lama setelah munculnya UU pertama tentang perbankan, pada tahun 1992, muncul UU yang baru yang menggantikan UU yang lama. UU tersebut adalah UU no. 7 tahun 1992 tentang perbankan. Selain itu, untuk menyempurnakan UU yang baru tersebut, pemerintah menerbitkan PP No 72/1992 ttg Bank Berdasarkan Prinsip Bagi Hasil. Berbagai kondisi baik internal maupun eksternal menuntut adanya perubahan dalam regulasi perbankan.

Pada tahun 1997 muncul krisis keuangan yang menuntut adanya perombakan dalam system keuangan di Indonesia. Dalam konteks perbankan, perbankan Indonesia mendapat ujian berat dengan gugurnya sejumlah bank menyusul adanya krisis keuangan. Gambaran mengenai kondisi perbankan Indonesia pada saat tersebut  menunjukkan bahwa restrukturisasi di sektor perbankan merupakan hal yang sangat mendesak dan harus secepatnya dilaksanakan dalam rangka pemulihan ekonomi nasional. (sunarsip dan suyono salamun)

Restrukturisasi perbankan ini bertujuan untuk menjamin kegiatan operasional perbankan yang sehat dan tersedianya fasilitas jasa perbankan yang merupakan hal yang sangat penting sebagai wadah untuk memobilisasi dana; menciptakan infrastruktur hukum dan standar pengawasan perbankan; menciptakan dan mempertahankan sistem perbankan yang sehat; dan untuk menyelesaikan masalah bank yang lemah dan insolven serta mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan (Gunawan; Jasmina; Rizali, 1998).

Menyusul kondisi-kondisi perekonomian yang kurang baik dan tuntutan dari berbagai pihak untuk melakukan restrukturisasi, muncul 2 UU baru yang berkaitan dengan dunia perbankan. Yang pertama adalah UU No 10/1998 ttg Perbankan. UU yang baru tersebut menjadi landasan atas dual banking system. Kemudian UU yang kedua adalah UU No 23/1999 yang menyempurnaan hal perihal BI dalam perekonomian Indonesia.

Performance

1. Bank Mandiri

Pada tahun 2007, Bank Mandiri menorehkan prestasi yang cukup baik atas kinerja keuangannya. Dua indicator utama kesuksesan kinerja keuangan mandiri adalah pertumbuhan laba bersih dan pertumbuhan kredit. Laba bersih Bank Mandiri meningkat Rp1,93 triliun dari Rp2,42 triliun di akhir tahun 2006 menjadi Rp4,35 triliun di akhir tahun 2007 atau tumbuh sebesar 79,51%. Pertumbuhan kredit Unit Bisnis mencapai Rp24,52 triliun di seluruh segmen usaha dengan diikuti oleh adanya penambahan lebih dari 40.000 debitur baru.

Peningkatan laba Bank Mandiri dipicu oleh pertumbuhan kredit dan perbaikan kualitas aktiva produktif, khususnya kredit, yang pada akhirnya mendorong peningkatan pendapatan bunga. Selain itu, peningkatan laba juga didorong oleh cost of funds yang menurun secara signifikan dari 6,4% pada tahun sebelumnya menjadi 4,6% karena perbaikan funding mix serta adanya peningkatan fee-based income yang signifikan dari sebesar Rp2,73 triliun menjadi Rp3,37 triliun.

Pada awal tahun 2007, Bank Mandiri telah meluncurkan organisasi berbasis Strategic Business Unit (SBU), di mana telah dibentuk 5 Unit Bisnis yang independen dan 1 Unit pengelola Non-Performing Loan. Pertumbuhan kredit kelima Unit Bisnis di tahun 2007 mencapai Rp24,52 triliun (sebelum memperhitungkan penurunan kredit di Unit pengelola NPL) dengan pertumbuhan kredit nominal di masing-masing unit bisnis sebagai berikut: Corporate Banking sebesar Rp8,72 triliun, Commercial Banking sebesar Rp7,10 triliun, Micro & Retail Banking sebesar Rp4,95 triliun, Treasury & International Banking sebesar Rp1,91 triliun dan Consumer Finance sebesar Rp3,15 triliun.

Total dana murah (giro dan tabungan) yang berhasil dihimpun mengalami peningkatan Rp43,25 triliun atau tumbuh 39,6% dari periode sebelumnya sebesar Rp109,12 triliun menjadi Rp152,37 trilun di akhir 2007. Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari tabungan yang tumbuh sebesar Rp25,06 triliun (41,5%) dari Rp60,30 triliun di akhir tahun 2006 menjadi Rp85,36 triliun di tahun 2007. Giro juga mengalami peningkatan tajam sebesar Rp18,20 triliun dari Rp48,81 triliun menjadi Rp67,01 triliun, atau tumbuh sebesar 37,3%.

Peningkatan peranan Bank Mandiri sebagai transactional bank yang handal di seluruh segmen usaha turut mendorong lonjakan pendapatan fee based income dari Rp2,73 triliun menjadi Rp3,37 triliun atau tumbuh sebesar Rp.640 miliar. NPL Bank Mandiri pada akhir tahun 2007 berada pada angka 7,17% gross dan 1,51% netto, dengan rasio pencadangan terhadap NPL sebesar 108,97%. (www.bankmandiri.co.id, corporate info)

2. Bank BCA

Tampaknya tahun 2007 merupakan tahun yang sangat baik bagi pertumbuhan perbankan tanah air. Tidak hanya berlaku bagi bank-bank milik pemerintah saja, tetapi juga berlaku bagi bank swasta. BCA sudah membuktikan hal tersebut dengan mencatatkan prestasi dalam hal keuangan yang baik pada tahun 2007. Kinerja Bank Central Asia tahun 2007 menunjukkan usaha yang memuaskan, hal ini ditandai dengan pertumbuhan total aktiva 23,3% sebesar Rp218 triliun dibandingkan dengan total aktiva sebelumnya sebesar Rp176,8 triliun.

Pertumbuhan aktiva tersebut disebabkan peningkatan portofolio kredit dan rekening transaksional dana pihak ketiga. Total portofolio meningkat sebesar 34,1% menjadi Rp82,4 triliun pada tahun 2007. secara presentase kredit konsumer mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 67,6% menjadi Rp14,2 triliun terutama didorong oleh pertumbuhan kredit kepemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB).

Selain kredit konsumer, kredit korporasi juga menunjukkan pertumbuhan sebesar 36,9% menjadi Rp32,8 triliun yang dipicu aktivitas di sektor telekomuniksi, minyak dan gas, perkebunan dan pertanian. Dana pihak ketiga tumbuh sebesar 23,9% menjadi Rp189,2 triliun. Hal ini dipicu peningkatan dana dari produk tabungan dan giro. Pada akhir tahun 2007, saldo rekening transaksional (tabungan dan giro) terhadap dana pihak ketiga meningkat menjadi 73,3%.

Kinerja Bank Central Asia (BCA) yang baik pada tahun 2007 membuat laba BCA  meningkat 5,8 % yakni sebesar Rp4,5 triliun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp4,2 triliun. Selain kinerja yang baik, peningkatan ini juga disebabkan stabilnya pendapatan bunga (interest income) bersih dan produk jasa layanan ( fee based income) dari BCA.

(www.kompas.com)

3. Bank BNI

Pada tahun 2007, tampaknya kinerja keuangan Bank BNI tidak terlalu berbeda dengan bank mandiri. Kedua bank pemerintah tersebut sama-sama meraih kinerja keuangan yang cukup baik. BNI berhasil membukukan pertumbuhan kredit senilai Rp 22,19 triliun atau naik 33% dari Rp 66.46 triliun pada akhir tahun 2006 menjadi Rp 88,65 triliun. Pertumbuhan kredit yang signifikan tersebut dibarengi dengan perbaikan kualitas kredit, yang ditunjukkan oleh turunnya NPL Gross dari 10,5% menjadi 8,18%, dan NPL Net dari 6,6% di akhir tahun lalu menjadi 4,01%.

Prestasi tersebut juga diikuti dengan melonjaknya dana tabungan hingga 25% dari Rp 38,62 triliun menjadi Rp 48,14 triliun, dengan total dana pihak ketiga (termasuk giro & deposito) mencapai Rp 146,19 triliun. Di tengah ketatnya persaingan dalam menjaring sumber dana murah, BNI masih tetap dipercaya masyarakat untuk menjadi bank tempat menyimpan dana dan bertransaksi. Hal ini terlihat dari pertumbuhan rekening di BNI dari 8,3 juta rekening pada 2006 menjadi 9,8 juta rekening pada 2007.

Total Aktiva per 31 Desember 2007 tercatat sebesar Rp 183,24 triliun, naik 8,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan aktiva selain didorong oleh pesatnya pertumbuhan kredit juga oleh pertumbuhan dana pihak ketiga. Kenaikan terutama terjadi pada dana murah, yaitu giro (naik 20%) dan tabungan (naik 25%), sehingga komposisi dana menjadi jauh lebih sehat dibandingkan tahun lalu, yaitu menjadi 38% deposito dan 62% dana murah (tabungan dan deposito.

Outstanding kredit per Desember 2007 mencapai Rp 88,65 triliun (naik 33%) dari Rp 66,46 triliun di akhir tahun lalu, termasuk pembiayaan Syariah yang naik 59,00% sehingga menjadi Rp 1,80 triliun di akhir 2007. Ekspansi tertinggi dibukukan oleh segmen usaha menengah dan kecil, dengan pertumbuhan masing-masing senilai Rp 5.92 triliun (naik 41%)  dan Rp 4.13 triliun (naik 30%). Komposisi kredit telah sejalan dengan yang ditargetkan, dimana pinjaman korporasi merupakan 40% dari total pinjaman, sedangkan porsi pinjaman komersial dan konsumer masing-masing sebesar 43% dan 15% dan sisanya adalah pembiayaan Syariah (2%).

Beberapa rasio keuangan menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya, antara lain rasio kecukupan modal (CAR) yang terjaga pada level 17,65%, jauh lebih tinggi dari persyaratan minimum Bank Indonesia sebesar 8%. Demikian pula NPL dan LDR. Sedangkan rasio profitabilitas yaitu ROA dan ROE cenderung menurun akibat berkurangnya profitabilitas, dari 1,85% dan 22,81% pada akhir tahun 2006 menjadi 0,85% dan 8,03% di akhir 2007. (www.bni.co.id, kinerja BNI 2007)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: