h1

Pemilu FEUI 2009 Sebuah Representative Dari Demokrasi

January 11, 2010

Pemilu FEUI 2009

Sebuah Representative Dari Demokrasi

oleh : Dimas Rachmat gozali

Pemilihan Umum adalah ajang yang sangat krusial dalam suatu lingkungan yang mengaku demokratis. Hal ini dikarenakan bentuk wajah pemilu akan menggambarkan fungsi pemilu itu sendiri, dan akan berujung pada bentuk politik lingkungan tersebut. Ini sering disebut sebagai constitutional engineering[1]. Oleh karena itu kesuksesan pemilu akan menggambarkan kesuksesan demokrasi di masa yang akan datang.

Lalu apakah indikator dari pemilu yang sukses? Menurut kami indikator utama pemilu yang sukses adalah terpilihnya pemimpin terbaik bagi suatu lingkungan. Indikatornya memang abstract. Namun itulah adanya. Pencapaian dari point utama tersebut terlaksana apabila kita memenuhi unsur-unsur pencapainya. Unsur-unsur tersebut berasal dari beberapa pihak, baik pihak yang dipilih, pemilih, dan sistem yang berjalan.

Oleh karena itu sangat penting bagi seluruh pihak untuk mendukung  terciptanya pemilihan umum yang adil, representative, dan kondusif bagi pelaksanaan pemilihan umum itu sendiri. Pemilihan umum yang gagal akan mencederai demokrasi dan begitu pula masa depan masyarakatnya. Hal ini hanya berlaku apabila kita semua memiliki keyakinan bahwa demokrasi adalah sistem politik terbaik.

Sesuai dengan hal yang dipaparkan diatas, pemilihan umum dapat berjalan dengan baik apabila seluruh pihak dalam sistem memang mendukung terciptanya pemilu yang kondusif tersebut. Untuk masyarakat FEUI, dibutuhkan dukungan dari lembaga eksekutif (BEM), legislative (BPM), BO/BSO, dan seluruh publik serta panitia penyelenggara pemilihan umum tersebut. Oleh karena itu izinkalah kami untuk mendukung pelaksanaan demokrasi  di FEUI melalui penyelenggaraan pemilihan umum FEUI tersebut.

Dari Panitia Pemilu FEUI 2009 Untuk FEUI

Kami selaku pihak yang menerima amanah secara konstitusional dari Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FEUI,  akan berusaha mewujudkan pemilu FEUI yang demokratis melalui misi yang kami bawa yaitu :

– Keterlibatan publik secara luas dan menyeluruh (baik sbg yang dipilih maupun yang memilih)

– Terexplorenya kemampuan kandidat dan penyampaiannya pada publik

– Menghadirkan pemilu yang tertib, adil, dan efisien

– Meningkatkan awareness public terhadap dunia pergerakan dan politik

Berdasarkan hal diatas, kami mengajak seluruh pihak untuk berpartisipasi aktif dalam pemilu tahun ini. Partisipasi aktif tersebut dapat berupa keikutsertaan menjadi pihak yang dipilih, menjadi pemilih aktif, dan melakukan control terhadap kinerja panitia, serta memberikan saran maupun kritik yang membangun.

Program yang kami bawa tahun ini adalah pengeksplorasian secara mendalam terhadap program yang di bawa masing-masing kandidat. Hal ini bertujuan agar pemimpin yang dipilih adalah pemimpin yang teruji kualitas programnya dan bukan hanya sekedar kharismatik semata maupun kesetiaan buta.

Program yang mendukung tereksplorasinya program tersebut adalah :

  1. Debat dan eksplorasi yang berfokus pada program kerja
  2. Debat isu dengan mekanisme bukan pro-kontra, namun sesuai dengan apa yang dipilih kandidat
  3. Adanya program kampanye baru yang bernama “negative champaign”. Untuk pengertian point ini akan dijelaskan di artikel berikutnya

Mekanisme Denda

Tahun ini juga kami membuat konsep baru untuk mekanisme denda pada kegiatan pemilu ini.  Sebagaimana kita ketahui dalam pemilu banyak peraturan panitia pemilu yang dilanggar oleh peserta. Untuk mengontrol serta mengurangi pelanggaran tersebut maka panitia menerapkan mekanisme denda dalam bentuk uang. Mekanisme denda dalam bentuk uang ini bukan dalam niatan panitia pemilu untuk mendapatkan keuntungan, namun seperti yang sudah dijelaskan yaitu untuk mengontrol dan mengurangi berbagai bentuk pelanggaran yang terjadi.

Konsep baru tersebut adalah  penerapan denda progresif (seperti tax progresif) yaitu denda yang diberlakukan akan semakin besar apabila pelanggaran yang dilakukan semakin banyak. Tentu saja untuk batas bawahnya kami membuat denda yang rendah. Serta untuk peraturanpun kami buat untuk tidak memberatkan peserta yang maju. Kami harap dengan mekanisme denda yang baru tersebut para peserta yang maju semakin bersemangat untuk memberikan yang terbaik bagi FEUI serta tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran peraturan.

Untuk transparansi uang denda yang terkumpul, kami akan mempublikasikannya secara resmi di mading BPM. Serta untuk penggunaannya adalah untuk di sumbangkan ke lembaga sosial di FE sesudah tercukupinya kebutuhan operasional panitia Pemilu (kertas suara, publikasi, dll).

Negative Champaign Vs Black Champaign

Untuk konsep tata tertib Pemilihan Umum kali ini tidak jauh berbeda. Namun ada perbedaan yang kami kembangkan yaitu pelarangan total terhadap black campaign namun memperbolehkan negative campaign yaitu khusus menyangkut program kerja dan bukan pada personal maupun masa lalu seseorang.

Black campaign (kampanye hitam), menurut Victor Kamber, telah berkontribusi terhadap sikap anti-politik dan meningkatnya jumlah golongan putih (Golput) di Amerika Serikat[2].  Kampanye hitam telah meracuni demokrasi dengan menelanjangi kekurangan dan kebobrokan para kandidat dan pemimpin politik. “Bayangkan jika biro iklan Coca Cola menyerang betapa buruknya Pepsi dan Pepsi membalas betapa berbahayanya Coca Cola. Lama kelamaan, tidak ada orang yang mau minum Coca Cola atau Pepsi,” tulis Kamber. Orang dapat hidup tanpa minum minuman ringan. Tapi orang tidak akan bisa terjamin keamanan dan kesejahteraannya tanpa pemerintahan.

Sedangkan negative campaign akan memberikan ruang bagi calon pemimpin untuk memperdebatkan gagasan dan program kerja masing-masing. Dengan begitu, terjadi penyempurnaan untuk konsep, gagasan dan program kerja mereka ke depan. Perdebatan mengenai program kerja masing-masing calon akan mengelaborasi ide dan konsep masing-masing calon untuk menyusun program kerja yang jauh lebih baik. Diharapkan dengan begitu para calon akan mengedepankan kampanye program kerjanya masing-masing dan kampanye saling menyerang latar belakang dan cenderung bersifat pribadi dapat dihindari. Kedewasaan politik mereka harus dimunculkan agar segala penyataan terhadap lawan politik yang berkilah populis namun kental nuansa elitis tersebut tidak menyedot perhatian rakyat. Karena jika itu yang terjadi, maka perjalanan demokrasi sehat terancam buntu.

Salah satu model negative campaign adalah memperbolehkan para kandidat untuk mempublikasikan hasil kritikannya terhadap program lawannya.


[1] Sistem Pemilu Kita Yang Ideal, Muhammad Ali Azhar, Kendari Pos,3 Maret 2009

[2] Kampanye Hitam dan Racun Politik, Akhmad Kusaeni, Antara News, 9 Juni 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: